Jumat, 24 Februari 2012

Jika Cinta Telah Menyapa

Aroji Saputra
Malam itu di sebuah ruangan duduklah seorang pria yang bernama Rahman dan dikelilingi beberapa orang perempuan dan laki-laki paruh baya, tepat berseberangan dengan tempat duduk Rahman duduk seorang gadis nan cantik jelita namanya Nida matanya barkaca-kaca bibirnya pucat pasih, dia hanya tertunduk membisu. Keadaan sunyi mencekam tak seorangpun berkata-kata diantara mereka. Semuanya tertunduk, sesekali terdengar bunyi diantara mereka yang mendengus dan suara tangisan yang tertahan, sehingga menjadikan keadaan dalam ruangan itu semakin mencekam.
Melalui Pak Basri yang tidak lain adalah paman Nida sendiri. Ibu Nida menyampaikan maksudnya kepada Rahman yang menyangkut masa depan Rahman dengan Nida, karena setahu Ibu Nida anaknya sudah lama berpacaran dengan lelaki tampan itu. Pak Basri adalah tempat Ibu Nida memusyawarahkan setiap permasalahan yang mereka hadapi semenjak Ayah Nida meninggal dunia dua puluh tahun silam. Ayah Nida meninggal dunia saat Nida masih berumur 18 hari, semenjak itu Nida hanya tinggal berdua dengan Ibunya.
Pecahlah kesunyian malam itu ketika Pak Basri mengutarakan maksud Ibu Nida mengundang Rahman bertandang kerumahnya.
“Begini nak, meskipun berat untuk kami sampaikan pada nak Rahman tapi ini sangat harus nak Rahman ketahui agar nak Rahman tidak menyesal dikemudian hari. Tadi siang nak Nida mendadak pingsan dan beberapa jam tidak sadarkan diri, kami semua panik, cemas melihat keadaan nak Nida begitu. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk membawa nak Nida kerumah sakit. Kitika kami sampai di Rumah Sakit nak Nida langsung mendapatkan perawatan dari salah seorang dokter di Rumah sakit itu, tidak berselang lama dokter memanggil saya untuk menyampaikan penyakit yang diderita nak Nida. Betapa kami semua terkejut mendengar tentang fonis yang dikatakan oleh dokter itu, dia mengatakan kalau nak Nida ini terkena kangker rahim dan akan segera di operasi karena jika tidak nyawa nak Nida akan terancam, dengan demikian nak Rahman tentu tahu kalau harapan nak Rahman untuk bisa memperoleh kuturunan bersama Nida itu sangat tidak mungkin, kita hanya menunggu mukjizat dari Allah SWT saja apakah Dia akan memberi atau tidak…”.
Setelah kata-kata itu keluar dari mulut seorang laki-laki paruh baya itu, semua orang yang hadir di ruangan itu melepaskan tangisan mereka yang sudah tertahan, begitupun dengan Rahman tanpa disadari air matanya meleleh membasahi pipinya. Dan belum sempat Rahman menyeka air matanya, kemudian Pak Basri melanjutkan kembali pembicaranya dengan nada yang lirih.
“Nak… kami tahu ini adalah keputusan terberat yang harus kamu pikirkan matang-matang, kamu pertimbangkan baik buruknya, demi masa depanmu yang masih begitu jauh. Kami tidak meminta agar nak Rahman memutuskannya malam ini, tapi terserah nak Rahman, kapan menurut nak Rahman merasa tepat untuk mengatakannya.”
Dengan penuh keyakinan Rahman langsung mengatakan keputusannya bahwa dia siap menerima Nida dengan apa adanya, walau sekalipun kenyataan pahit itu harus ia telan mentah-mentah. “Saya mencintai Nida, dan cinta saya kepada Nida tidak hanya sebatas kelebihanya saja tapi semua kekurangannya juga harus saya terima”.
Dengan nada yang sudah mulai lega paman Nida itu melanjutkan pembicaraannya untuk meyakinkan kembali keputusan yang telah diambil oleh Rahman. “Mungkin nak Rahman perlu membicarakan ini dengan kedua orang tua nak Rahman agar tidak ada pihak yang dikecewakan dan mudah-mudahan mereka juga menerima nak Nida dalam keadaan apapun”. Tanpa ada sedikitpun keraguan dari wajah Rahman, ia juga membiri keyakinan kepada keluarga Nida yang hadir malam itu. “Saya mencintai Nida bukan karena kesehatannya, yang apabila ia sedang sakit lalu luntur cinta saya. Tidak, saya mencintai Nida dengan tulus, saya tidak akan meninggalkan Nida dalam keadaan seperti ini. Ini adalah cobaan kami berdua yang harus kami berdua juga menghadapinya, karena dibalik semua ini pasti Yang Maha Kuasa telah menyiapkan kebahagian yang lebih kepada kami. Apapun keadaan Nida sekarang ini, itu tidak bisa melunturkan cintaku kepadanya …”
Mendengar peryataan yang begitu meyakinkan dari Rahman semua orang yang ada dalam ruangan itu terharu, mereka mencoba merasakan cintanya Rahman yang begitu besar kepada Nida. Sehingga apapun keadaan Nida tidak sedikitpun mengurangi rasa cintanya.
    Setelah kejadian malam itu, Nida yang semula tidak mau melakukan operasi untuk mengangkat kangker beserta rahimnya itu, dengan bujukan dan rayuan dari Rahman akhirnya ia memutuskan mau untuk melakukan operasi tersebut.
    Rahman yang mulanya takut untuk menyampaikan hal itu pada kedua orang tuanya akhirnya dengan tekat yang kuat dan rasa cinta yang begitu besar kepada Nida ia memberanikan diri untuk mengatakan hal itu, dan ia telah menyiapkan hati untuk menerima segala konsekuensi yang akan diberikan kepadanya jika nanti kedua orang tuanya tidak menyetujui keputusannya itu. Dengan suara yang yang tersendat-sendat penuh rasa cemas Rahman menyampaikan apa yang telah dialami Nida sekarang ini. Begitu ia manyampaikan berita malang tersebut kedua orang tua Rahman sangat kaget dan seakan tidak percaya kalau Nida akan mengalami hal demikian. Nida yang sudah dikenalnya sebagai anak yang baik itu, kini sedang dalam musibah yang besar.
Betapa terkejutnya Rahman ketika mendengar orang tuanya merestui hubungan mereka dan menyuruh Rahman untuk segera melamar Nida. Rahman yang tadinya hanya tertunduk mulai mengangkat kepalanya dan seraya memeluk Ibunya. Ia tidak tahu harus berapa besar ucapan terima kasihnya kepada kedua orang tuanya yang baik hati itu. Tanpa menunggu-nunggu waktu lagi Rahman langsung berpamitan untuk menjenguk Nida di Rumah Sakit dan menyampaikan kabar gembira ini kepada Nida dan keluarganya. Ketika itu juga kedua orang tua Rahman ingin ikut melihat keadaan Nida yang sedang terbaring di Rumah Sakit. Tanpa mengulur-ulur waktu mereka segera menuju Rumah Sakit dimana Nida dirawat.
Sesaat kemudian mereka telah tiba di halaman Rumah Sakit tersebut, mereka segera turun dan menuju ruang tempat Nida dirawat, rupanya di depan kamar itu ada Pak Basri yang sedang tertunduk lemas ketika Rahman melihat keadaan Pak Basri begitu Rahman mendadak menghentikan langkahnya, begitu juga kedua orang tuanya yang mengikuti Rahman dari belakang semenjak turun dari mobilnya tadi wajahnya pucat pasih, ia takut kalau-kalau telah terjadi sesuatu pada Nida. Dengan  langkah yang pelan dan pandangan tetap tertuju pada Pak Basri yang sedang duduk tertunduk lamah itu.
Beberapa langkah lagi sebelum sampai dihadapan Pak Basri. Tiba-tiba Pak Basri mengangkat kepalanya, betapa kaget dan terkejutnya dia ketika melihat Rahman telah berdiri dihadapannya dengan mata yang berkaca-kaca dan dengan sejuta pertanyaan. Melihat hal itu Pak Basri langsung berdiri dan seraya memeluk Rahman sambil menangis. Perasaan Rahman kian dihantui rasa cemasnya terhadap Nida, ia bertanya-tanya pada Pak Basri “apa yang telah terjadi dengan Nida Pak…?”, “bagaimana keadaan Nida Pak..?’ “mengapa Bapak menangis…?, “ayo bicara Pak..!!!”, “apa yang terjadi dengan Nida Pak…?”. Sambil menahan tangisannya Pak Basri menjawab “Nida telah meninggalkan kita nak…”.
    Mendengar jawaban dari Pak Basri tubuh Rahman mendadak lemas tanpa daya. Orang tua Rahman yang dari tadi berdiri dibelakangnya segerah mendekati Rahman dan  Ibunya mengelus pundak Rahman yang sedang tertunduk di kursi sebelah Pak Basri sembari mengucapkan kepada anaknya. “sabar ya nak…”. Sesaat kemudian dengan tubuh yang tak berdaya itu Rahman mencoba tuk berdiri dan melangkah mendekati pintu ruang tempat jasad Nida terbaring. Setelah pintu terbuka Ibu Nida, bibi Leha istrinya Pak Basri yang dari tadi berada dalam kamar itu serentak melihat kearah pintu terbuka itu, di situ berdiri Rahman dengan mata yang merah, dengan langkah yang tertatih, Rahman mencoba mendekati jasad Nida yang terbaring kaku itu.
Sesaat kemudian Rahman telah berdiri disamping Nida dan langsung memeluk jasad itu sambil menangis sejadi-jadinya. Seakan ada perasaan tidak percaya kalau Nida secepat itu meninggalkannya. Ibu Nida yang berada disampingnya segera mengelus-elus pundak Rahman, dengan suara yang serak ia mencoba menenangkan Rahman “sabar ya nak…, biarlah Nida pergi mendahului kita. Jangan menangis lagi Nida pasti tidak mau melihat nak Rahman menangis. Sudah biarkan Nida beristirahat dengan tenang disana. Kita do’akan saja semoga Nida diterima disisi-Nya”.

1 komentar: